Mengenal Ki Hadjar Dewantara : Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

Kamis, 06 Agustus 2026 Artikel Tokoh Pendidikan Nasional 55 kali dilihat
Mengenal Ki Hadjar Dewantara : Bapak Pendidikan Nasional Indonesia
Foto: Ilustrasi

Ki Hadjar Dewantara merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Beliau tidak hanya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, tetapi juga sebagai pelopor pendidikan nasional yang menjadikan kebudayaan sebagai dasar pembentukan karakter bangsa. Berkat dedikasi dan pemikirannya yang visioner, Ki Hadjar Dewantara dianugerahi gelar Bapak Pendidikan Nasional, sementara hari kelahirannya, 2 Mei, diperingati setiap tahun sebagai Hari Pendidikan Nasional.


Masa Muda dan Latar Belakang



Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau berasal dari lingkungan keluarga bangsawan Pura Pakualaman, sebagai putra GPH Soerjaningrat dan cucu Paku Alam III. Meskipun berasal dari kalangan ningrat, Soewardi memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kehidupan rakyat serta memperjuangkan hak-hak kaum bumiputra.


Pendidikan dasar ditempuh di ELS (Europeesche Lagere School), yaitu sekolah dasar yang diperuntukkan bagi anak-anak Eropa dan kalangan bangsawan. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia. Namun, karena kondisi kesehatan yang memburuk, ia tidak dapat menyelesaikan pendidikan kedokterannya.


Karier Jurnalistik dan Pergerakan Nasional


Kegagalan menyelesaikan pendidikan kedokteran tidak mematahkan semangatnya untuk mengabdi kepada bangsa. Soewardi kemudian menekuni dunia jurnalistik dan menjadi penulis di berbagai surat kabar, antara lain De Express, Utusan Hindia, Kaoem Moeda, Midden Java, dan Sedyotomo.


Melalui tulisan-tulisannya yang tajam, kritis, dan berani, ia menyuarakan penolakan terhadap ketidakadilan serta membangkitkan kesadaran nasional masyarakat Indonesia.


Selain aktif sebagai jurnalis, Soewardi juga terlibat dalam berbagai organisasi pergerakan nasional. Pada tahun 1912, bersama E.F.E. Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) dan Dr. Cipto Mangunkusumo, ia mendirikan Indische Partij. Ketiga tokoh tersebut kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai, yang memiliki peran besar dalam membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia.


Kritik terhadap Pemerintah Kolonial dan Masa Pengasingan


Pada tahun 1913, pemerintah kolonial Belanda berencana merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis dengan membebankan biaya perayaan kepada rakyat di tanah jajahan.


Kebijakan tersebut mendapat kritik keras dari Soewardi melalui tulisannya yang terkenal berjudul "Als Ik Eens Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda).


Tulisan tersebut membuat pemerintah Hindia Belanda menjatuhkan hukuman pengasingan kepadanya. Atas permintaannya sendiri, Soewardi diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya dalam Tiga Serangkai.


Selama menjalani pengasingan di Belanda pada 1913–1919, ia memanfaatkan waktu untuk mempelajari ilmu pendidikan hingga memperoleh Onderwijs Akte, yaitu sertifikat sebagai tenaga pendidik.


Mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa


Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1919, Soewardi meyakini bahwa perjuangan melalui pendidikan merupakan jalan terbaik untuk membebaskan bangsa dari kebodohan dan penjajahan.


Pada usia 40 tahun menurut perhitungan penanggalan Jawa, ia mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Pergantian nama tersebut mencerminkan keinginannya untuk lebih dekat dengan rakyat tanpa sekat kebangsawanan.


Pada 3 Juli 1922, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta.


Lembaga pendidikan ini memberikan kesempatan belajar yang sama kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan status sosial, suku, maupun latar belakang.


Taman Siswa kemudian menjadi salah satu tonggak penting lahirnya sistem pendidikan nasional yang berlandaskan nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan Indonesia.


Filosofi Pendidikan


Ki Hadjar Dewantara mewariskan filosofi pendidikan yang hingga kini menjadi semboyan dunia pendidikan Indonesia.


Ing Ngarsa Sung Tuladha


Di depan memberi teladan.


Ing Madya Mangun Karsa


Di tengah membangun semangat dan kemauan.


Tut Wuri Handayani


Di belakang memberikan dorongan dan dukungan.


Filosofi tersebut menegaskan bahwa seorang pendidik harus mampu menjadi teladan, membangun motivasi, sekaligus memberikan dukungan kepada peserta didik agar berkembang secara optimal.


Pengabdian Setelah Kemerdekaan


Setelah Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara dipercaya oleh Presiden Soekarno untuk menjabat sebagai Menteri Pengajaran pada kabinet pertama Republik Indonesia.


Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya di bidang pendidikan, beliau memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957.


Wafat dan Warisan


Ki Hadjar Dewantara wafat di Yogyakarta pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.


Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959. Beliau juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959.


Hingga kini, pemikiran Ki Hadjar Dewantara tetap menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Gagasannya tentang pendidikan yang memerdekakan manusia, membentuk karakter, dan menghargai kebudayaan bangsa terus menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan nasional.


Referensi


ü  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2017). Biografi Ki Hadjar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional. Jakarta: Museum Dewantara Kirti Griya.


ü  Suratman, D. (1985). Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.


ü  Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.


ü  Museum Dewantara Kirti Griya Yogyakarta. Website Resmi Taman Siswa: https://tamansiswa.org


 

Tags:

Bagikan Artikel:

Artikel Terkait