Imam Muslim, Ulama Besar dalam Ilmu Hadis

Kamis, 13 Agustus 2026 Biografi Inspirasi 4 kali dilihat
Imam Muslim, Ulama Besar dalam Ilmu Hadis
Foto: Ilustrasi

Imam Muslim lahir di Naisabur pada 202 H atau bertepatan dengan 817 M. Nama lengkap beliau adalah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Pada masa itu, Naisabur merupakan salah satu wilayah penting dalam kawasan yang dikenal sebagai Maa Wara'a an-Nahr, yaitu daerah di sekitar Sungai Jihun yang berada di kawasan Uzbekistan dan Asia Tengah.


Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur berkembang menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama kurang lebih 150 tahun. Selain Naisabur, kota Bukhara yang merupakan tempat kelahiran Imam Bukhari juga dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam di Asia Tengah. Banyak ulama besar menetap dan menimba ilmu di kawasan tersebut.



Ketekunan Imam Muslim Mempelajari Hadis


Kecintaan Imam Muslim terhadap ilmu hadis telah terlihat sejak usia muda. Beliau mulai secara serius mempelajari hadis pada 218 H, ketika usianya belum mencapai 15 tahun. Allah menganugerahinya kemampuan berpikir yang tajam serta daya hafal yang kuat.


Ketika berusia sekitar 10 tahun, Imam Muslim telah rutin menghadiri majelis seorang ahli hadis bernama Imam Ad-Dakhili. Setahun kemudian, beliau mulai menghafal hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Bahkan, pada usia yang masih sangat muda, Imam Muslim telah berani mengoreksi kekeliruan gurunya ketika salah menyebutkan sanad atau periwayatan sebuah hadis.


Semangatnya dalam menuntut ilmu tidak terbatas pada satu guru. Imam Muslim rela mendatangi berbagai ulama di banyak daerah untuk memastikan keakuratan sanad dan periwayatan hadis. Perjalanan mencari ilmu menjadi bagian penting dalam kehidupannya.


Beliau melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah, antara lain Hijaz, Irak, Syam, Mesir, dan daerah lainnya. Dalam perjalanan tersebut, Imam Muslim bertemu dengan banyak ulama terkemuka untuk belajar dan memperdalam ilmu hadis.


Di Khurasan, beliau belajar kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Ketika berada di Ray, beliau berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Sementara di Irak, Imam Muslim mempelajari hadis dari Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah.


Di wilayah Hijaz, beliau belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas'Abuzar. Adapun ketika berada di Mesir, beliau berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, selain kepada sejumlah ulama ahli hadis lainnya.


Hubungan dengan Imam Bukhari


Kota Baghdad memiliki tempat khusus dalam perjalanan keilmuan Imam Muslim. Beliau beberapa kali mengunjungi kota tersebut untuk menimba ilmu kepada para ahli hadis. Kunjungan terakhirnya ke Baghdad berlangsung pada 259 H.


Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim kerap mengunjunginya. Keduanya berdiskusi dan saling bertukar pengetahuan mengenai ilmu hadis. Imam Bukhari yang lebih senior pada masa itu dikenal memiliki penguasaan yang sangat luas dalam bidang hadis.


Dalam sebuah perselisihan yang terjadi antara Imam Bukhari dan Az-Zihli, Imam Muslim memilih berada di pihak Imam Bukhari. Keputusan tersebut kemudian menyebabkan hubungan Imam Muslim dengan Az-Zihli terputus. Dampaknya turut berpengaruh terhadap persoalan keilmuan, terutama dalam hal penerimaan dan periwayatan hadis.


Dalam Shahih Muslim maupun karya-karya lainnya, Imam Muslim tidak memasukkan hadis yang beliau terima dari Az-Zihli, meskipun sebelumnya Az-Zihli merupakan gurunya. Hal yang sama juga dilakukan terhadap hadis-hadis yang diterima dari Imam Bukhari.


Meski demikian, sikap tersebut tidak menghapus pengakuan Imam Muslim terhadap keduanya sebagai guru. Hal ini menunjukkan kehati-hatian beliau dalam proses penyusunan dan seleksi hadis.


Penyusunan Shahih Muslim


Imam Muslim dikenal sebagai ulama yang memiliki sifat tawadhu dan wara dalam menuntut serta mengembangkan ilmu. Sepanjang kehidupannya, beliau meriwayatkan puluhan ribu hadis.


Menurut Muhammad Ajaj Al-Khatib, guru besar hadis di Universitas Damaskus, Suriah, jumlah hadis dalam Shahih Muslim mencapai 3.030 hadis jika dihitung tanpa pengulangan. Apabila hadis yang mengalami pengulangan turut dihitung, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 10.000 hadis.


Sementara itu, menurut Imam Al-Khuli, ulama besar asal Mesir, Shahih Muslim memuat sekitar 4.000 hadis tanpa pengulangan dan 7.275 hadis jika pengulangan turut diperhitungkan.


Hadis-hadis yang kemudian dihimpun dalam Shahih Muslim merupakan hasil seleksi dari sekitar 300.000 hadis yang diketahui oleh Imam Muslim. Proses penelitian dan penyaringan tersebut berlangsung selama kurang lebih 15 tahun.


Dalam menyusun hadis, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh dan ta'dil, yaitu cabang ilmu hadis yang digunakan untuk menilai kredibilitas serta kualitas para perawi dan riwayat. Beliau juga menggunakan berbagai sighat at-tahammul atau metode penerimaan dan penyampaian riwayat, di antaranya haddasani (telah menyampaikan kepada saya), haddasana (telah menyampaikan kepada kami), akhbarani (telah mengabarkan kepada saya), akhbarana (telah mengabarkan kepada kami), serta qaala (ia berkata).


Kedudukan Imam Muslim dalam Ilmu Hadis


Imam Muslim dikenal sebagai salah satu tokoh paling penting dalam perkembangan ilmu hadis. Keahliannya mencakup penelitian sanad, matan, kritik terhadap riwayat, hingga proses seleksi hadis.


Dalam kedudukannya sebagai ahli hadis, Imam Muslim sering ditempatkan setelah Imam Bukhari dalam hal penguasaan ilmu hadis. Ulama besar Abu Quraisy Al-Hafizh pernah menyebut bahwa hanya terdapat empat orang yang benar-benar dikenal sebagai ahli hadis pada masanya, dan Imam Muslim merupakan salah satunya.


Karya terbesar Imam Muslim adalah Shahih Muslim, sebuah kitab hadis yang hingga kini menjadi salah satu rujukan utama dalam khazanah hadis Islam.


Tentang Ringkasan Shahih Muslim


Kumpulan hadis Shahih Muslim yang menjadi sumber naskah ini berasal dari Ebook Shahih Muslim (Mukhtashar Shahih Muslim), revisi 1.03, pembaruan 26 Maret 2009, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dari Kampungsunnah.org.


Karya tersebut merupakan kompilasi dari kitab Shahih Imam Abu Husain Muslim bin Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi. Kitab tersebut kemudian diringkas oleh Al-Hafizh Al-Mundziri dan diberi catatan atau komentar oleh Syaikh Al-Albani dengan tujuan memudahkan pembaca dalam menghafal dan mempelajari hadis.


Penyusunannya juga dirancang agar pembaca dapat menemukan hadis yang dibutuhkan dengan lebih mudah dan cepat. Dalam versi ringkas tersebut terdapat 2.188 hadis yang terbagi ke dalam 70 kitab. Dengan susunan tersebut, diharapkan pembaca dapat mempelajari dan menelusuri hadis-hadis dalam Shahih Muslim secara lebih praktis.

Tags:

Bagikan Artikel:

Artikel Terkait